Kamis, 31 Agustus 2017

SEKELUMIT SEJARAH BERDIRINYA RUMAH SAKIT KUSTA ALVERNO SINGKAWANG 

Sumber:dryaminleprosy.blogspot.co.id

Pemerintah Negeri Belanda saat tahun 1911 menyarankan kepada seluruh Gereja Katolik (Missie Katolik) guna memperhatikan dan memberi pelayanan kesehatan kepada semua pasien penyakit kusta di Provinsi Kalimantan Barat, khususnya di kota Singkawang dan di sekitarnya karena di tempat tersebut banyak ditemukan pasien penyakit tersebut. Atas saran tersebut, Vikaris Apostolik Pontianak, Mgr. Bos memohon pada Para Suster Misionaris yang melayani di bidang kesehatan agar menanggapinya.

Pada tahun 1912, para pasien / penderita kusta yang berdomisili di kota Pontianak diminta berkumpul dan dibawa ke sebuah tempat dekat Singkawang. Pernah juga ada pemikiran bahwa para pasien merasa diasingkan di suatu pulau yang tidak ada penghuninya di depan Teluk Suak. Tetapi, baru 1 malam, mereka telah pergi untuk melarikan diri dengan mendayung perahu karena mereka merasa tidak nyaman. Setelah itu, para pasien ini tersebar ke berbagai daerah. Masyarakat merasa resah dan tidak nyaman atas keberadaan mereka itu. 

Pihak misionaris bergerak cepat untuk mengumpulkan kembali para pasien tersebut dan menampungnya di kaki Gunung Sari yang jaraknya kurang lebih 1,5 km di sebelah selatan kota Singkawang. Maka, pada tahun 1914, dibangun rumah-rumah sederhana untuk para peasien kusta dan sebuah Gereja kecil (kapel) dengan biaya misi. Kemudian, tahun 1917, pemerintah kerajaan Hindia Belanda membantunya. 

Pada saat itu juga, datang seorang suster dari negeri Belanda yaitu Suster Cajetana van Tiel ke Singkawang. Suster Cajetana van Tiel merupakan seorang suster perawat pasien penyakit kusta. Mereka langsung memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien penyakit kusta. Setiap hari, Suster tersebut berjalan kaki kurang lebih 20 menit dari biara susteran ke kamp penderita kusta sambil membawa bekal  untuk merawat dan melayani mereka hingga malam. Begitulah pelayanan Suster Cajetana van Tiel selama beberapa tahun dengan penuh semangat.

Pada tahun 1925, Vikaris Apostolik Pontianak, Mgr. Bos membuat beberapa unit pemukiman dan rumah sakit sederhana dengan berlantai semen, dinding papan serta atap daun. Bersamaan dengan itu dibangun pula rumah suster dengan nama “Susteran Leproserie Alverna”. Bangunan-bangunan tersebut selesai. Mulai berfungsi pada tanggal 17 November 1925. Kompleks di kaki Gunung Sari itu sekarang berkembang menjadi kompleks Rumah Sakit Kusta Alverno, dan tanggal 17 November diperingati sebagai hari jadinya. 

Beberapa tahun kemudian, datanglah 2 orang suster dari negeri Belanda untuk membantu Suster Cajetana van Tiel, yaitu: Suster Achilla dan Suster Wilhelmia. Lalu, karya tersebut diteruskan oleh Suster Theodrina dan menyusul Suster Merrie Bernard. Demikianlah Rumah Sakit Kusta Alverno berdiri dan berkembang dalam pelayanan maupun fasilitas, sarana dan prasarananya yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab Vikariat Apostolik Pontianak.

Pada awal kemerdekaan, pemerintah Indonesia belum mampu membangun rumah sakit pemerintah yang baru untuk memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat di Kalimantan Barat. Berdasarkan keadaan tersebut, pemerintah dalam hal ini Kementrian Kesehatan Republik Indonesia mengadakan kerja sama dengan Vikariat Apostolik Pontianak dalam pengelolaan rumah sakit-rumah sakit milik misi katolik yang berada di Kalimantan Barat antara lain Rumah Sakit Sungai Jawi-Pontianak, Rumah Sakit Santa Elisabeth-Sambas, Rumah Sakit Santo Vincentius-Singkawang, Poli Klinik Nyarumkop dan Rumah Sakit Kusta Alverno- Singkawang.  Sebagai bentuk kerjasama tersebut maka pada 27 Oktober 1954 diterbitkan Surat Perjanjian dengan Akte Notaris No. 189 yang ditandatangani oleh Lie Kiat Teng dari Kementrian Kesehatan RI dan Mgr. Van  Valenberg dari  Vikariat Apostolik Pontianak pemilik Rumah Sakit.

Dengan demikian, Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang secara operasinal menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun kepemilikan rumah sakit tersebut adalah Vikariat Apostolik (sekarang Keuskupan Agung) Pontianak. Sejak itu, pemerintah memberikan subsidi  berupa biaya operasional, sarana dan prasarana, tenaga medis, paramedis, serta biaya pemeliharaan, walaupun masih belum mencukupi. 

Oleh sebab itu, pihak Keuskupan Agung Pontianak masih harus menyediakan tenaga paramedis dan non medis serta turut  berperan serta secara aktif dalam pendanaan baik secara rutin maupun dalam bentuk proyek. Kini, sebagian besar dari rumah sakit tersebut kini pengelolaannya sudah dikembalikan kepada pemiliknya, yaitu: Keuskupan Agung Pontianak. Pada tahun 1990, dikembalikanlah Rumah Sakit Sungai Jawi, Pontianak yang kemudian berubah nama menjadi Rumah Sakit Santo Antonius, menyusul tahun 1993 Rumah Sakit Santo Vincentius, Singkawang dan terakhir tahun 1997 Rumah Sakit Santa Elisabeth, Sambas. Yang masih belum dikembalikan oleh pemerintah tinggal Poli Klinik Nyarumkop dan Rumah Sakit Kusta Alverno, Singkawang.

Sejak berdirinya hingga saat ini, dalam memberikan perawatan dan pengobatannya kepada pasien, Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang  tidak memungut biaya apapun. Kini pelayanan Rumah Sakit Kusta Alverno tidak sebatas memberi pengobatan dan perawatan kepada pasiennya, tetapi lebih dari itu, pihak rumah sakit (bersama dengan Departemen Sosial) juga memberikan pemukiman dan bantuan penghidupan serta bantuan biaya sekolah anak-anak dari para penyandang kusta. 

Pada 1985 bekerjasama dengan Departemen sosial, Rumah Sakit Kusta Alverno membangun pemukiman untuk eks penderita kusta di Desa Hok Lo Nam (Norio) yang kemudian sebagian berpindah ke Desa Pakunam mengingat lokasinya tidak layak huni dan tidak bisa untuk bercocok tanam. Sedangkan pemukiman di sekitar Rumah Sakit Kusta Alverno dan Roban adalah hasil usaha rumah sakit dengan bantuan para donatur yang bersedia membantu. Komplek pemukiman Roban dibangun mulai dari tahun 1956 dan terus bertambah. Pada tahun 1980/1981 mendapat bantuan dari Canada. Komplek pemukiman bagi penderita kusta kini tersebar dalam 4 lokasi yaitu di : Sekitar Rumah Sakit (± 9 hektar), Roban, Pakunam (± 10 hektar), dan Hok Lo Nam.

Program-program pemerintah yang menyangkut pelayanan dan peningkatan kesehatan masyarakat juga banyak menyentuh keberadaan dan kegiatan rumah sakit ini. Mulai tahun 1993 hingga sekarang mendapat bantuan dana Operasional Pemeliharan Rumah Sakit (OPRS) dari pemerintah yang dipergunakan untuk rehabilitasi gedung, menambah pengadaan / perawatan sarana lain serta penyuluhan tentang penyakit kusta. Departemen Tenaga Kerja juga menyelenggarakan pelatihan-pelatihan keterampilan bagi eks penderita kusta di antaranya kursus menjahit, mengelas, pertukangan, dan perbengkelan.

Pada 22 Agustus 1980, Rumah Sakit ini telah melakukan operasi rekonstruksi pada kaki, tangan, dan mata dengan bantuan Dr. Berbudi dari Rumah sakit Kusta Sitanala, Tangerang. Operasi rekonstruksi ini terus berlanjut. Dr. Berbudi melakukan operasi sebanyak 5 kali kemudian diteruskan Dr. Tumada sebanyak 6 kali hingga tahun 1985. Mulai tahun 1985 Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang berada di bawah binaan Rumah Sakit Kusta Sungai Kundur, Sumatera Selatan. Sejak itu, tenaga dokter ahli yang membantu operasi berasal dari Rumah Sakit Kusta Sungai Kundur, Sumatera Selatan. Dokter-dokter tersebut adalah Dr. Rivai Abd. (+), Dr. Nazaruddin, Dr. Syaiful Anwar Hadi ( 8 kali melakukan operasi ), Dr. Hasneimah, Dr. Liana Meilan, Dr. Taufik, Dr. Zaki Mabarat (4 kali melakukan operasi ), Dr. Andry M.T. Lubis sampai dengan tahun 1998. Pada tahun 1999 dan 2000, operasi konstruktif ditangani oleh Dr. Syaiful Anwar Hadi yang berdomisili di Jakarta.

Dalam perjalanannya, Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang mendapat perhatian dan sumbangan baik berbentuk tenaga, dana, sarana dan prasarana serta pemikiran dan pembinaan kerohanian dari berbagai pihak. Untuk itu pantaslah Rumah Sakit Kusta Alverno Singkawang mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, yakni: pemerintah, para dokter, donatur, dan semua pihak yang peduli dengan penderita kusta.
Sumber: www.novisiatkapusinpoteng.blogspot.co.id
Sum

Rabu, 30 Agustus 2017

Apa Itu Penyakit Kusta ?

Sumber: www.novisiatkapusinpoteng.blogspot.com

Kusta  adalah  penyakit  menular  dan  menahun  yang  disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Penyakit kusta terutama menyerang saraf tepi dan  kulit,  tetapi  dapat  juga  menyerang  organ  atau sistem  lain  misalnya mukosa  mulut,  saluran  napas  bagian  atas, mata,  otot,  ginjal  dan  testis.
Penyakit  kusta  yang  tidak  secara  dini  dan  tepat  ditangani  akan  berakhir
dengan    banyak    kecacatan    fisik    yang    permanen.
World    Health Organization (WHO)  telah  membagi  derajat  kecacatan  pada  penderita kusta menjadi  3,  yaitu:
derajat  0
- tidak  terdapat  adanya  kecacatan,
derajat  1
- kehilangan  sensasi   pada   tangan   atau   kaki,
derajat   2
- kecacatan  yang  dapat  langsung  terlihat  seperti  ulkus  pada  kaki  dan tangan, kelumpuhan otot (drop foot dan claw hand) atau reabsorbsi parsial dari  jari
- jari,  serta  kebutaan.
Kecacatan  fisik  yang  terlihat  (derajat  2)
menjadi  masalah  besar  bagi  penderita  sebab  hampir  seluruh  penderita
kusta  mengalami  keterbatasan  pada  fungsinya  di  dalam  masyarakat  dan
lingkungan   kerja   akibat   adanya   penolakan   dan   stigma
negatif.
Kecacatan fisik berdampak pada  kehidupan penderita tidak hanya secara
fisik  tetapi  juga  psikologis,  sosial,  dan  ekonomi.
WHO  menunjukkan bahwa  data  jumlah  kasus  baru  yang  ditemukan  pada  tahun  2011  adalah
219.075  kasus, dengan 12.225  kasus  di antaranya  telah  mengalami kecacatan derajat 2.
Kasus baru tahun 2011 dengan kecacatan derajat 2
mengalami peningkatan sebesar 230 kasus dari 1.822 kasus yang tercatat
pada tahun 2010.
Hasil rekapitulasi profil kesehatan Provinsi Kalimantan Barat  menun jukkan  terjadinya  kecacatan derajat  2  pada  penderita  kusta baru sebesar 1,64% dari 61 kasus pada tahun 2010, 19,2% dari tahun 52 kasus pada tahun 2011, dan 9,25% dari 54 kasus pada tahun 2012. Meima  A, dalam  penelitiannya memperkirakan jumlah  penderita  kusta dengan  kecacatan  derajat  2 pada tahun 2020  jumlahnya  di kisaran  1  juta penderita. WHO  telah  menargetkan  pada  tahun  2015 di negara  endemis termasuk Indonesia terjadi penurunan angka kecacatan derajat 2 sebesar 35  persen dari  angka  tahun  2010. Penelitian  mengenai  epidemiologi penyakit  kusta  dengan  kecacatan derajat  2  dapat  menjadi langkah  awal untuk    mencapai    target   tersebut. Penelitian   dan   data mengenai karakteristik penderita  kusta  dengan  kecacatan  derajat  2  di  Kalimantan Barat masih belum  tersedia,  padahal data  tersebut  penting sebagai salah satu  dasar  untuk  mencapai  sasaran program  pengendalian kusta  yang telah  dicanangkan  oleh  Kementerian  Kesehatan  RI. Pemahaman  yang lebih  baik diperlukan  untuk  meningkatkan  deteksi dini terhadap  potensi kecacatan  derajat  2  serta penanganannya  bila  sudah  terjadi. RS  Kusta Alverno   Singkawang merupakan   satu-satunya   rumah   sakit   kusta   di Provinsi  Kalimantan  Barat  yang  menjadi  pusat rujukan,  pengobatan danpencegahan  terhadap  kecacatan  penderita  kusta.
Sumber: Aji Witama, Naskah Publikasi Karakteristik Penderita Kusta Dengan Kecacatan Derajat 2 Di Rs Kusta Alverno Singkawang Tahun 2010 – 2013, Singkawang 2014.

Kategori

Blog Archive

JOGET BERSAMA, KECERIAAN ANAK-ANAK KELUARGA EX KUSTA

JOGET BERSAMA, KECERIAAN ANAK-ANAK KELUARGA EX KUSTA Lokasi: pemukiman ex kusta, Danau Biru, Wonosari, Roban, Singkawang Tengan Waktu: Mi...

Statistik Kunjungan


Popular Posts